Minggu, 11 Agustus 2013

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB,NABINYA BANI SAUD,WAJAR SELALU MEMBECI NABI MUHAMMAD SAW

Menurut Salafi Wahabi, Jutaan Muslim Jadi Musyrik Gara-gara Baca Shalawat Nariyah.
 
Naaaah...itu dia kalo Nikah mysar,onani pake terong,memperkosa orang demo,memperkosa wanita i pihak musuh sepertidi suria,dalam keadaan perang,membolehkan wanita menyusui pembantu/sopir untuk jadi saudara sepersusuan, dll.

Ah....repot pot..pot... Tapi sih...Wajar orang Nabinya bukan Nabi Muhammad Saw,Maludi Nabi Muhammad Saw,dikafirkan,baca Sayyidina dikafirkan,bapak ibu,paman dan kakek dikafirkan tanpa melihat bahwa mereka keturnan Ahlul Tauhid sampai ke Nabi Ismail as bin Nabi Ibrahim as,bertawasul kepada Nabi Muhammd Saw dikafirkan,ziaroh ke makam Rasulullh dibilang masyiat dan kafir..peniggalan bersejarahnya sperti tempat kelahiran Nabi Muhammd Saw,dimusnakan, kenapa sih gak sekalian Hijir Ismail ?...Dasar licik E..e.. mala Maulid Muhammad bin Abdul Wahab dirayakan luar biasa !

Rupanya melakukan pemaksaan agar Umat yang selama ini menjadi pengikut Nabi Muhammd Saw,diwajibkan kembali ke Nabi Bani Saud rupaya,kalo tidak mau,Kafir dan Wajib dibunuh...Sabda terdahsyat Muhammad bin Abdul Wahab,Nabinya para wahaber : Barang siapa menerima Fatwa Wahabi maka Mukmin,menolaknya Kafir,halal darahnya (untuk dibunuh),halal hartanya (untuk dirampok),Mikir donk ya..?,kalo mau jadi pengikut Nabi Muhammad Saw,kembalilah ke Ahlussunnah Wal-Jama'ah,Mengikuti sunnah Rasulullah,sunnah chulafairosidin dan mematuhi Ulamak Ahlussunnah Wal-Jama'ah,sebagimana Sabda Nabi Muhammad Saw : Al-Ulamak warisatul Ambiak= Ulamak itu pewaris para Nabi.

(Jawaban Atas Tuduhan “Syirik” Terhadap Shalawat Nariyah)

Di antara amaliyah Ummat Islam khususnya kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah membaca sholawat atas Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- dengan bermacam redaksi.

Dan diantara redaksi sholawat yang paling masyhur di kalangan ASWAJA khusunya Nahdliyyin di Indonesia adalah Shalawat Nariyah.

Bid’ah dan Syirik adalah label yang mereka (wahabi) sematkan kepada beberapa redaksi sholawat.

Sungguh berbagai upaya Tabayyun telah diusahakan oleh para ahlinya, namun telinga dan mata hati mereka seakan telah tertutup tebalnya tembok doktrin yang tidak berdasar.

Semoga Alloh berkenan memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada mereka .

berikut ini saya cantumkan solawat nariyah serta dalil-dalilnya:

ألّلهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدِنِالَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى
بِهِ
الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى
الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ
وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“ Ya Alloh.. Curahkanlah limpahan shalawat (rahmat) dan salam yang sempurna atas junjungan kami Muhammad, yang dengannya terlepas banyak ikatan, terbuka banyak kesulitan, terpenuhi banyak hajat, tercapai banyak keinginan, tergapai Husnul Khotimah, dan berkat wajahnya nan mulia hujan diturunkan, juga atas keluarga dan para sahabatnya, disetiap kedipan mata dan hembusan nafas, sebanyak segala yang diketahui oleh-Mu “
Demikian kurang lebih redaksi Shalawat Nariyah yang sering dituduh sebagai Sholawat “Syirik”.

Tulisan kami kali ini tidak menjelaskan sholawat Nariyah dari sudut pandang Bid’ah, mengingat sudah banyak yang menjelaskan tentang redaksi sholawat Ghoiru Ma’tsur semisal redaksi sholawatnya Sayyidina Ali, Ibn Mas’ud, Imam Hasan Al Bishri, Al Ghozali dan yang lain.

Disini kami ingin membuktikan bahwa shalawat Nariyah sama sekali tidak mengandung unsur “Syirik”.

Pertama: Sholawat, apapun redaksinya selama substansi dan nilai dasar dari sholawat tersebut adalah Memohon Rohmat dan Salam kepada Alloh untuk Nabi Muhammad – shollallohu ‘alaihi wasallam- , tidak akan mengandung syirik.

Coba anda perhatikan redaksi sholawat berikut :
ألّلهُمَّ
صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ

“ Ya Alloh.. Curahkanlah limpahan sholawat (rahmat) dan salam yang sempurna atas junjungan kami Muhammad”.

Dalam redaksi shalawat tersebut (juga sholawat-sholawat yang lain) kita dapati setidaknya empat rukun :

1. Alloh Al Quddus : Dzat Yang
dimohon untuk memberikan rahmat dan salam
2. Sholawat (Rahmat) dan Salam : Obyek perkara yang dimohon
3. Nabi Muhammad : Yang dimohonkan untuknya
4. Musholli ‘alan Nabi : Orang yang memohon rahmat dan salam
Dengan demikian, apapun redaksi sholawat akan dengan proporsional menempatkan Alloh sebagai Dzat yang dimohon dan menempatkan Rosululloh sebagai makhluk yang dimohonkan rohmat dan salam untuknya. Sehingga orang yang bersholawat tidak akan pernah menyamakan Rosululloh dengan Robbnya yakni Alloh –subhanahu wa ta’ala-, inilah salah satu dari hikmah perintah membaca sholawat dan salam atas Rosululloh, yakni menghindarkan ummat Islam terjatuh dalam kesalahan ummat Nabi Isa –‘alaihis salam-.

Kedua : Tentang pujian-pujian kepada Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- yang mengiringi sholawat Nariyah, adakah pujian-pujian tersebut yang mengandung unsur “syirik” ?

Mari kita buktikan bersama :

a. Redaksi yang berbunyi :

الَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ

“yang dengannya terlepas banyak ikatan, terbuka banyak kesulitan”. Adalah Imam Al Hakim dalam Al Mustadroknya dan Imam At Tirmidzi dalam As Sunan-nya meriwayatkan sebuah hadits tentang lelaki buta yang mengadu kepada Rosululloh :

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْ شَقَّ عليَّ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ
:اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا
مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيُجْلِي لِي عَنْ بَصَرِي ،
اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي ، قَالَ عُثْمَانُ :
فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْنَا وَلَا طَالَ بِنَا الْحَدِيْثُ حَتَّى
دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ

“Ya Rosulalloh, sungguh saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa berat,” kata laki-laki buta tersebut. Kemudian Rosululloh memerintahkan : “Pergilah ke tempat wudhu dan berwu-dhulah, kemudian sholatlah dua roakaat.”

Selanjutnya laki-laki tersebut berdo’a : “Ya Alloh, sungguh saya memohon kepada-Mu dan bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rohmat. Wahai Muhammad saya bertawassul denganmu kepada Tuhanmu agar Dia menyembuhkan pandanganku. Ya Alloh, terimalah syafa’atnya untukku dan terimalah syafaatku untuk diriku.”
Utsman (yang meriwayatkan hadits) berkata : “Maka demi Alloh, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai, sampai lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” Imam Al Hakim meriwayatkan hadits diatas dalam Al Mustadrok, dan beliau berkata bahwa hadits tersebut shohih, sedang Imam At Tirmidzi menilai hadits diatas sebagai hadits hasan shohih yang ghorib.

Abu Ya’la dalam Al Musnad-nya meriwayatkan sebuah hadits tentang Qotadah :

أَنَّ قَتَادَةَ بْنَ النُّعْمَانِ أُصِيْبَتْ
عَيْنُهُ يَوْمَ
بَدْرٍ فَسَالَتْ حَدْقَتُهُ عَلَى وَجْنَتِهِ فَأَرَادُوْا أَنْ يَقْطَعُوْهَا
فَسَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : لَا : فَدَعَا بِهِ
فَغَمَزَ حَدْقَتَهُ بِرَاحَتِهِ فَكَانَ لَا يُدْرَى أَيُّ عَيْنِهِ أُصِيْبَتْ

Bahwa Qotadah ibnu an Nu’man mengalami kecelakakaan pada matanya sewaktu perang badar hingga kornea matannya keluar ke pipinya. Para sahabat hendak memutus kornea mata tersebut. Lalu Qotadah bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. “Jangan !“ kata Rosululloh. Kemudian Rosululloh meletakkan telapak tangan beliau pada kornea mata Qotadah, lalu menekan masuk. Selanjutnya tidak diketahui mata yang mana yang pernah mengalami kecelakaan. (HR, Abu Ya’la)

Adakah redaksi sholawat tersebut mengandung unsur syirik, sedang faktanya sebagaimana yang anda saksikan dalam hadits-hadits diatas yang tentunya masih banyak fakta-fakta lain ? Terlebih Rosululloh sendiri mencanangkan dalam sabdanya yang mulia :

وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Dan barangsiapa membebaskan saudaranya muslim dari kesulitan, maka Alloh akan membebaskan kesulitannya dari kesulitan-kesulitan hari kiamat”. (Muttafaq ‘Alaih)
Maka pertanyaannya adalah : Musyrik-kah kami dan orang-orang yang memuji Nabi sebagai makhluk “yang dengannya dilepaskan segala ikatan dan dibebaskan segala kesulitan…? ”

b. Redaksi selanjutnya berbunyi :

وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

terpenuhi banyak hajat, tercapai banyak keinginan, Imam Al Bukhori meriwayatkan sebuah hadits tentang Rosululloh yang mengabulkan keinginan Abu Huroiroh :
يَا
رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ
ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ
فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

“Wahai Rosululloh, saya mendengar banyak hadits darimu namun saya lupa. Saya ingin lupa ini hilang,” Abu Huroiroh mengadu. “Bentangkan selendangmu,” perintah beliau.

Lalu Abu Huroiroh membentangkan selendangnya dan Nabi mengambil udara dengan tangannya dan meletakkannya pada selendang tersebut kemudian bersabda, “Lipatlah selendangmu!”
Lalu Abu Huroiroh melipat selendangnya. “Sesudah peristiwa itu saya tidak pernah
mengalami lupa,” ucap Abu Huroiroh. (HR. Al Bukhori)

Perhatikan fakta bahwa Rosululloh mengabulkan keinginan Abu Huroiroh, dan tentunya masih banyak fakta-fakta lain yang menunjukkan bahwa Rosululloh sering mengabulkan keinginan para sahabatnya, terlebih jika kita memperhatikan hadits-hadits berikut :

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

“Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Alloh akan memenuhi kebutuhannya.”(HR. Al Bukhori / Muslim.)

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Alloh senantiasa membantu seorang hamba sepanjang ia selalu membantu saudaranya.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan yang lain.)

Maka di manakah redaksi sholawat yang memuji Nabi sebagai makhluk “yang dengannya terpenuhi banyak hajat, tercapai banyak keinginan,” dianggap syirik …?
c. Redaksi selanjutnya berbunyi :

وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ

‘tergapai Husnul Khotimah”, adakah yang salah dari redaksi sholawat tersebut ? Sedang faktanya adalah Bahwa Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu- yang sebelumnya sangat membenci Islam kemudian masuk islam berkat do’a Nabi ? juga Tsumamah serta para sahabat yang lain yang masuk Islam berkat akhlak mulia Rosululloh ?

d. Redaksi selanjutnya berbunyi :
وَيُسْتَسْقَى
الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ
وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“dan berkat wajahnya nan mulia hujan diturunkan, juga atas keluarga dan para sahabatnya, disetiap kedipan mata dan hembusan nafas, sebanyak segala yang diketahui oleh-Mu,” kepada semua yang menganggap syirik redaksi sholawat tersebut,

perhatikanlah fakta berikut :

فَهَذَا أَعْرَاِبّي يُنَادِيْهِ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ
يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَقُوْلُ : يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَتْ
الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعْتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يُغِيثَنَا فَدَعَا
اللهَ وَجَاءَ الْمَطَرُ إِلَى الْجُمْعَةِ الثَّانِيَةِ ، فَجَاءَ وَقَالَ : يَا
رَسُوْلَ اللهِ تَهَدَّمَتِ الْبُيُوْتُ وَتَقَطَّعَتِ السُّبُلُ وَهَلَكَتِ
الْمَوَاشِي
.. يَعْنِي مِنْ كَثْرَةِ الْمَطَرِ فَدَعَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَانْجَابَ
السَّحَابُ وَصَارَ الْمَطَرُ حَوْلَ الْمَدِيْنَةِ

Seorang A’rabi memanggil Rosululloh saat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berkhutbah pada hari Jum’at ; “Wahai Rosululloh, harta benda rusak parah dan jalan-jalan terputus. Berdo’alah engkau kepada Allah agar Dia menurunkan hujan.”Beliau kemudian berdo’a dan turunlah hujan hingga jum’ah kedua. Berikutnya A’robi tadi datang lagi kepada beliau. “Wahai Rosululloh, rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak mati…” yakni karena derasnya hujan. Akhirnya beliau shollallohu ‘alaihi wasallam berdo’a dan mendung pun hilang. Hujan terjadi di sekitar Madinah.” (HR. Bukhori, Muslim, dan yang lain).

Selanjutnya Imam Al Bukhori juga meriwayatkan hadits dalam shohihnya dengan sanad bersambung hingga Abdulloh Ibn Umar :
وَقَالَ عُمَرُ بْنُ
حَمْزَةَ حَدَّثَنَا سَالِمٌ عَنْ أَبِيهِ رُبَّمَا ذَكَرْتُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَنَا
أَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِي
فَمَا يَنْزِلُ حَتَّى يَجِيشَ كُلُّ مِيزَابٍ* وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ
بِوَجْهِهِ* ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلْأَرَامِلِ

Umar bin Hamzah berkata, Salim telah menceritakan padaku dari ayahnya: “Kadang aku mengingat seorang penyair seraya kupandang wajah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang sedang memohon hujan. Maka beliau tidak turun sampai talang mengalir airnya.” Rambut yang memutih (menyaksikan); mendung diminta menurunkan hujan dengan wajahnya…. dialah penyantun anak-anak yatim juga pelindung para janda.... (HR. Bukhori)

Jika pujian yang berbunyi “Wa Yustasqol Ghomaamu Biwajhihil Kariim” (dan berkat wajahnya nan mulia hujan diturunkan) dianggap syirik, maka adakah Abdulloh Ibnu Umar yang menyitir syiir tersebut telah musyrik …?

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kalian (berbuat demikian): bagaimana kalian mengambil keputusan (menghukumi)…?”
Wallohu a’lam…

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=284866901654508&set=a.165198276954705.40947.100003936019219&type=1&permPage=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar